Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Kisah Haru: Engkau Akan Menangis Jika Membacanya, Insya Allah

JUDUL: CERITA SEBUAH KATA

ayah dan anak

Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H
Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM

Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.

Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”

Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.

“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.
Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata.

Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”

Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.

...

Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
...
Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’

Diceritakan kembali oleh ustadz Firanda Andirja, MA via Facebook
More aboutKisah Haru: Engkau Akan Menangis Jika Membacanya, Insya Allah

Kisah Hakim Adil dan Pencuri Miskin

Kisah Hakim Adil dan Pencuri Miskin
Gambar Ilustrasi
Telah beredar  kisah disalah satu propinsi Amerika seorang lelaki tua muncul dipengadilan karena didakwa mecuri sepotong roti. Dan orang tua tersebut telah mengakui perbuatannya dan tidak menyangkal apa yang dituduhkan oleh pengadilan dan dia mengatakan, "Aku terpaksa melakukannya karena lapar, dan aku hampir mati karenanya."

Kemudian hakim berkata kepadanya, "Kau tahu.. bahwa kau memang mencuri dan aku akan menjatuhi untukmu hukuman denda 10 dollar. Akan tetapi aku tahu kamu tidak memiliki uang 10 dollar karena kamu mencuri roti tersebut. Untuk itu aku akan tetap memberi hukuman untukmu."

Maka terdiamlah seluruh orang yang hadir dalam persidangan tersebut. Dan mereka menyaksikan hakim merogoh dan mengeluarkan uang 10 dollar dari sakunya dan menyerahkannya kepada pencuri tersebut untuk digunakan sebagai uang denda dari keputusan pengadilan.

Lalu berdirilah sang Hakim dan menatap kepada para hadirin dan dia menyeru, "Aku dakwa kepada kalian semua untuk membayar uang denda 10 dollar karena kalian hidup dikota dan membiarkan orang miskin kelaparan dan mencuri sepotong roti.

Maka pada ruang pengadilan tersebut terkumpulah uang sebanyak 480 dollar dan hakim menyerahkannya kepada pria tua tersebut.

Diantara pelajaran kisah diatas adalah kita harus mengaku satu orang yang adil bisa merubah pemikiran sebuah negara.

Wallahu a'lam

Diterjemahkan secara bebas dari m3rfaa.com oleh Gimun Gibrat

NB: Sebenarnya kisah ini menjadi perdebatan di dunia maya tentang kebenarannya, apalagi cerita si nenek tua dengan hakim di daerah lampung yang hampir mirip dengan kisah diatas.

berlepas dari benar tidak nya kisah diatas, penulis pribadi hanya mengambil hikmah yang ada, "Semoga di Indonesia ada hakim seperti kisah hayalan diatas" hehhehehe

Untuk jelasnya kisah hoax silahkan cek: 

1. http://insansains.wordpress.com/2012/02/08/hoax-nenek-curi-singkong-dan-hakim-hebat/

2. http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/08/fitnah-di-balik-kisah-inspiratif-nenek-pencuri-singkong-dan-hakim-hebat-433882.html
More aboutKisah Hakim Adil dan Pencuri Miskin

Kisah Mujahidin: Jenazah Masih Utuh dan Tercium Bau Wangi

Allah memperlihatkan bukti, mereka sungguh berperang dengan orang Kafir.


Berita dari Mahad Darul Hadits Dammaj
kisah mujahidin
Sumber gambar: http://assalafy-alhaq.blogspot.com/

( Info By Phone dari teman ana Abu Fadhil dari anaknya Fadhil dan temannya Amin Banyuwangi)

Beberapa kali terjadi hujan deras di Darul Hadits Dammaj Yaman dan puncaknya terjadi pada sore hari Jumat tanggal 19 April 2013 hingga malam sabtu telah terjadi hujan lebat yang disertai es yang menyebabkan banir di Dammaj!

Akibat hujan yang deras tersebut menyebabkan beberapa rumah terendam banjir serta menyebabkan longsornya makam yang didalamnya dikebumikan 70an orang mujahidin yang dahulu pernah berperang melawan orang-orang Syiah.

Makam tersebut sebenarnya makam darurat yang terletak di tanah yg rendah bersebelahan dg perkampungan yg difungsikan pada saat perang dg syiah karena tidak memungkinkan pada saat itu memakamkan jenazah di pemakaman umum yg terbuka shg bisa menjadi sasaran tembak para syiah

Karena longsornya area makam dan menyebabkan terbukanya sebagian makam dan kebetulan ada dermawan yg mewakafkan tanahnya utk digunakan sbg makam maka syeikh Yahya Al Hajuri Pimpinan Mahad Darul Hadits Dammaj memutuskan untuk memindahkan jenazah orang-orang tersebut ke tempat pemakaman yang baru.

Berawal dari sinilah kebesaran Allah SWT dinampakkan kepada Hamba-Hamba-Nya. Kebanyakan jenazah yang ditemukan dalam keadaan utuh, bahkan seluruhnya.

Dimulailah pemindahan jenazah pada hari sabtu sekitar belasan jenazah hingga selesai hari senin.
Banyak perkara-perkara menakjubkan yang ditemukan ketika proses pemindahan jenazah. Sebagaimana yang telah kami sebutkan diatas bahwa jenazah mujahidin dalam kondisi utuh, padahal mereka telah meninggal 1,5 (satu setengah) tahun yang lalu.

Ada jenazah seorang ikhwan yang berasal dari Francis bernama sofyan baju yang dia kenakan masih dalam keadaan utuh, bahkan kain kafan, bulu kaki dan jenggotnya juga masih utuh. Subhaanallaah!

Ada juga jenazah seorang ikhwan dari Iraq tercium semerbak harum dari jasadnya, subhaanalloh!

Ada juga seorang jenazah yang ketika dipindahkan, darah masih menetes dari luka ditubuhnya sehingga seorang wartawan mengambil tisu untuk menyeka tetesan darah tersebut sebagai bukti karena dia tidak diperkenankan mengambil foto ataupun video, Subhaanalloh!

Ada juga jenazah seorang ikhwan, dimana sebelum wafatnya ia mengalami banyak penyiksaan yang dilakukan oleh syiah hingga badannya hitam kotor dan rusak namun tatkala jenazahnya dipindahkan dalam keadaan bersih yang tertinggal hanya luka-lukanya. Subhaanallaah!

Demikian juga dengan jenazah 5 balita dan 2 wanita yang merupakan anak-anak dan istri ikhwan, pun mereka masih dalam keadaan utuh! Bahkan seorang wanita lagi hamil masih dalam keadan utuh dengan kehamilannya, Subhaanallaah!

Fenomena yang menakjubkan ini mendorong banyak orang awan di sekitar Dammaj dan bahkan dari wilayah yang lain hingga ribuan datang berbondong-bondong melihat kekuasaan Allah SWT yang ditunjukkan kepada manusia secara keseluruhan. Hanya saja karena penggunaan video dan kamera tidak diperbolehkan di tempat itu menjadikan tidak adanya dokumen yang otentik seperti foto dan video.

Peristiwa ini pula yang mendorong Syaikh Ahmad yang mengimamami Sholat magrib membaca surat Al A’raf sampai selesai hingga hampir mendekati waktu isya. Subhaanallaah!

Pemindahan jenazah 70 mujahidin 2 wanita dan 5 balita tersebut dilakukan selama 3 hari mulai sabtu, ahad dan senin dilakukan setelah mempertimbangkan bahwa lokasi makam terletak di daerah yg rendah yang bila terjadi hujan deras lagi akan menyebakan area makam longsor dan lokasinya juga terlalu dekat dengan pemukiman penduduk

Pemindahan jenazah dilakukan dengan mobil dan jalan kaki, tidak semua jenazah dibuka dan diperlihatkan kepada yang datang menyaksikan tapi hanya beberapa yang kebetulan dipindah dengan jalan kaki dan warga yang menyaksikan ingin melihat akhirnya dibuka dan diperlihatkan.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka dan kita, semoga Allah SWT merahmati mereka dan kita, dan semoga kita dipertemukan dengan mereka di dalam surga-Nya, amin!

Wallohu ‘alam

Sumber FB: Tasnedi Bin Taslim
More aboutKisah Mujahidin: Jenazah Masih Utuh dan Tercium Bau Wangi

Kisah Penuh Hikmah: Mengapa Bukan Ayah saja yang Meninggal?

Kisah anak yang menyadarkan kealpaan ayahnya...subhanallah!

kisah ayah dan anak

Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Suatu kali ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah shubuh. Bagi si anak, Shubuh merupakan sesuatu yang sulit bagi sang bocah. Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.

Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?

Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?...bukan!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid. Tapi...tatkala ia membuka pintu rumahnya. Suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap...membuat nyalinya menjadi ciut.

Tahukah Anda, apa yang ia lakukan kemudian?

Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah...

Ya...ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.

Begitupula cara ia pulang dari masjid, bocah itu menjadikan itu sebagai kebiasaan
begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada orang tuanya yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain. Dan ini dilakukan sang bocah agar bisa begadang malam.

Hingga suatu kali... Terdengar kabar olehnya, kakek-kakek itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan....

Sang ayah heran...”Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu...bukan siapa-siapa kamu!”

Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata, “kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”

“A’udzu billah..., kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.

Si bocah berkata, “Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..

Sementara kakek itu....setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”

ALLAHU AKBAR! Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.
Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yg semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya...

“Rabbana hablanaa min azwaajina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama..”

Sumber: Mamlakah al-Qashash al-waaqi'iyyah

Diterjemahkan oleh: Ustadz Abu Umar Abdillah
More aboutKisah Penuh Hikmah: Mengapa Bukan Ayah saja yang Meninggal?

Kisah Penunggu Sawah Penghasil Anak

Dulu ketika belum ada facebook, belum ada twitter, belum ada harlem shake (ane biasa bilang harem sex, maklum orang jawa), belum ada dandang sutel, belum ada yang belum ada. Suasana masih sepi, hiruk pikuk manusia tidak semeriah konser partai.

Waktu kanak-kanak main petak umpet menjadi pemenang karena banyaknya semak-semak belukar sehingga yang mbesangpun susah mendapatinya.

Itulah dulu yang menjadi pribadi luar biasa, pribadi yang punya malu, pribadi yang bisa menjaga kehormatan keluarga.

Masih ingat!! mitos-mitos orang tua yang mengatakan pada anaknya, "nak sudah maghrib, nanti sawanen dan di gondhol bethorokolo" Maka berhamburanlah anak-anak yang bermain dan mereka pulang, sementara para orang tua menutup pintu-pintu jendela.

Saya tidak percaya mithos itu tapi saya percaya makna yang terkandung didalamnya, dalam islam ketika matahari terbenam maka tanduk setan akan muncul, setan-setan bertebaran, maka jika anak kecil berkeliaran menjelang maghrib biasanya terkena 'ain. Ah sudah kita kembali ke asal permasalahan perbedaan dulu dan kini, manusia-manusia yang kehilangan tempat bermain.

Siapa yang tidak kenal dengan penunggu sawah, dialah pak tani yang begitu telaten menjaga sawahnya dari ganguan makluk-makhluk asing.

Pekerjaannya yang mulia menghidupi masyarakat kota walau dirinya dalam keadaan susah. Siang-malam tidak kenal lelah hingga dirinya rela dijiplak dari jerami untuk jadi orang-orangan sawah. Untuk apa? Untuk kita untuk Anda orang-orang kota..

Anda tahu? Pak tani sesungguhnya membutuhkan regenerasi profesi yang menjadi tulang punggung bangsa.
penunggu sawah penghasil anak
Sumber gambar orang sawah: http://id.wikipedia.org/wiki/Orang-orangan_sawah

Generasi  Baru Penunggu Sawah


Yang  benar saja, profesi penunggu sawah kini banyak diminati para remaja. Bahkan remaja rela berhujan-hujan, berpanas-panas, gatal-gatal terkena ulat menjadi profesi penunggu sawah modern.

Walau sedikit heran pak tani tua tidak mengajarinya tapi generasi ini begitu produktif dan kreatif menjalankan profesinya.

Cara kerja remaja profesi penunggu sawah ini tentu lebih modern dari yang dulu. Disamping menunggu sawah bisa melakukan aktivitas sampingan. Ya.. bisa facebook, harem sex, dandang sutel… enjoy ketika kerja.

Tapi tiba-tiba pak tani heran, kenapa sekarang marak orang berbondong memilih profesi ini? Apa untungnya dan apa hasilnya?

Selidik punya selidik ternyata panen yang dihasilkan dari dari sawah yang ditunggu oleh mereka bukanlah padi, bukanlah beras, bukan jagung, bukan bawang, dan bukan buah-buahan.

Terhenyaklah pak tani, ternyata profesi mereka menghasilkan anak diluar nikah.

Support: Kumpulan Puisi dan Kisah
More aboutKisah Penunggu Sawah Penghasil Anak

Merubah Nama Anak Menjadi Jelek

Berubahnya nama indah Abdulllah

memilih nama anak
Nama Kamu Siapa?
Teman bisa merubah sifat, maka cermatlah dalam bergaul.
Perhatikan sekecil apapun dalam bergaul, jangan sampai merubah apa yang menjadi indah.

Abdullah adalah nama pemberian nama dari orng tuanya, nama yang mengandung arti penghambaan terhadap Allah. Ini memang harapan orang tua agar anaknya kelak selalu mendekatkan diri kepada Allah...

Diantara usaha sang ibu adalah memasukkan Abdullah masuk TPA untuk berlajar agama...

Ya, Abdullah namanya... sudah dewasa

Tetapi disisi lain tanpa sepengetahuan ortunya dia bergaul dengan anak-anak begundal. Apa yang dia kerjakan ya? .... Abdullah kini mempunyai banyak teman di satu kampung maupun luar kampung..

Suatu hari datanglah teman dia dari luar kampung kerumahnya.

"Tok tok.. kulonuwun, salamungalaikum... tok tok.."

"Wangalaikum salam..." ternyata yang buka ibunya..

"Madosi sinten njih mas?"

"Doel Kempit enten bu?? kulo rencangenipun sekolah teng SMU "

"Doel Kempit sinten njih mas, teng riki mboten enten jenenge Doel Kempit.."

"Njih terosi alamate mriki bu, RT 112/RW 1 nomer 50..."

"Injih leres niki alamate, tapi mboten enten jenenge Doel Kempit.. " si ibu makin bingun nih..

"Njih bu matur suwun, menawi kulo klentu... Assalamu 'alaikum"

"Wangalaikum salam ".... si Ibu tutup pintu.

Lalu tiba-tiba Abdullah muncul dari belakang.

"Tamu siapa bu?"

"itu ada orang salah alamat.."

"Ohhh.. kok bisa bu, emang nyari siapa?"

"Ada orang nyari namanya Doel Kempit, tapi alamatnya bener sini...?"


"Lah buuk.. ornag itu nyari aku.. Doel Kempit itu aku bukkk!!"


Oh tidaaaakk ternyata nama Indah itu sudah berubah.

Bagaimana Nama Terbaik Anda?


Kisah diatas adalah penggalan dari banyaknya kejadian di masyarakat. Mungkin kamu pernah menjadi korban dari berubahnya nama itu.

Ambil contoh lagi nama populer yang sering berubah adalah Nama EKO, ayo.. kamu pasti tahu julukan dari nama ini?

Yap, kamu pasti nebak julukannya adalah binatang Ampibhi hehehehe..

Jika kita menjadi orang tua dan anak kita dipanggil seperti itu, bagaimana perasaan Anda?
More aboutMerubah Nama Anak Menjadi Jelek

Kisah Ta'aruf: Maaf Salah Orang

Waktu memang nge-trend istilah ta'aruf ane singkat menjadi tangarufatau istilah pacaran sesudah menikah. Gaya-gaya ala harokah menjangkiti sebagian temanku dalam masalah jodoh-jodohan.
salah wanita

Foto, salah satu wasilah yang terpenting dalam dunia tangaruf, dan tidak dikenal dalam dunia persilatan. Tapi menjadi platform antar murobbi.

"Ukht menikah yuk??"
"Sudah bilang ke murobbi ana belum akh?"
'Belum ukht.. hehhee"

Gedubrak.. murobbi seakan telah mengambil posisi wali nikah yang sah.

Tak ubahnya sahabatku MR. X yang ngebet ingin menikah tetapi bingung calonnnya siapa. Yap, alternatif adalah mencari sang Murobbi dengan channel kawat yang banyak,,

Akhirnya datanglah MR. X ini ke beliau, nego dan pilah pilih sedang berlanjut..

Seminggu dua minggu tak ada kabar.

=Mbah gimun tolong anter ane ke Bantul yuk.
- Ngapain akh?
= Ane kemarin tangaruf sama kawat melalui seseorang, tapi hanya diperlihatkan foto thok, penasaran ane?
- Yah, kan udah ada CV tuh..
= ya CV nya sih ada, katanya kawat tersebut begini dan begitu.. tapi ane sangsi banget deh.
- Lah ini mau datang ke rumahnya sudah sepengetahuan si Kawat dan si Murobbi?
= Belum

Akhirnya dengan senang hati ane mengantar MR X ke bantul meski nyasar-nyasar tidak tahu alamatnya, seharian penuh puter-puter. Eh tidak tahunya deket sama Kebun binatang. Nyesel banget sampai alun-alun bantul masih ngidul...

Sudah sampai alamat tanya-tanya tetangga-tetangga sebelah.....

Akhirnya pasti deh menuju pintu rumah si kawat, aku dipaksa menjadi juru bicara oleh MR. X kalau orng tuanya menemui.

Tapi qadarullah sebelum mengetuk pintu banyak suara gaduh, teriak-teriak, anak nangis g berhenti-henti.. dalam hati sudah mulai curiga. Bener g ya?

Kethuk-kethuk pintu tidak juga dibuka...

"Wa'alaikum salam, cari siapa mas?"

Kaget buka main yang buka seorang kawat berkulit hitam ber-kathok pendhek sepaha dengan pakaian semledot

"Apa benar ini rumah pak Paijo (nama samaran)?"

"Benar mas, tapi bapak sedang kerja..pulangnya nanti malam.. Eh silahkan masuk mas."

"Oh terima kasih mbak, kalau bapaknya enggak ada enggak apa-apa disini saja"

"Masnya dari mana? mungkin nanti saya sampaikan pesan ke beliau.."

"Mbak putrinya beliau yang bernama Eka (nama samaran) ya?"

"Iya betul.... loh kok mas tahu? masnya darimana ya?"

Kami semakin rikuh dengan penampilan si kawat itu dan semakin g enak aja lama-lama disini..

"eeh anu mbak.. kami pamit saja.."

"Loh kok... kan belum belum sampaikan perlunya apa mas?"

"Enggak mbak makasih, ntar saja datang kemari mau ketemu sama bapak ajah" (wah in boong banget dalm hati...

"Permisi mbak assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam"

Kami cepat undur diri..
ane introgasi MR X

"bener tuh kawat yang ente maksud?"

"Ya itu yang dikasih tahu murobbi.."

"lah kok begitu?

"Ya g tahu di fothonya putih kok dan berjilbab..."

"Lah yang kta temui itu apa.."

"Asyem ane nyesel tangaruf lewat fotho..."

Ngaciiiiiiiiiiiir

http://irgimnur.blogspot.com/2012/12/kisah-taaruf-maaf-salah-orang.html
More aboutKisah Ta'aruf: Maaf Salah Orang

Kisah Islam - Mereka Tidak Takut dengan Jin, Hantu dan Sebangsanya

mereka tidak takut jin, hantu dan sebangsanya
Ilustrasi

PARA MUWAHHIDUN TIDAK TAKUT KEPADA JIN, SETAN, HANTU, DAN SEBANGSANYA


Kisah Islam - Sekitar 10 KM dari pesantren Salafiyah itu ada sebuah perkampungan penduduk. Di dalam kampung tersebut ada sebuah surau (musholla) yang sudah sangat tua. Surau itu sudah puluhan tahun nganggur tidak dipakai untuk sholat. Jadinya terkesan angker, suram, dan sekilas terlihat samun dan mengerikan. Penduduk setempat tak ada satupun yang berani mendekati surau itu. Berita yang berkembang di masyarakat setempat, sering terjadi peristiwa aneh dan ganjil di surau tersebut. Peristiwa yang membuat bulu kuduk merinding.

Ada sebagian warga setempat pernah mencoba membongkar surau itu biar tidak meresahkan masyarakat. Tapi justru mereka mengalami banyak kejadian mengerikan yang membuat mereka trauma.

Pejabat desa setempat juga pernah meminta tolong kepada sebuah pesantren beraliran Shufi untuk merobohkan surau yang angker itu. Tapi para santri shufi itu pun gagal karena ketika mulai bekerja merobohkan surau itu mereka sering mengalami berbagai gangguan yang sangat di luar nalar, hingga mereka pun menyerah, tak mau melanjutkan pekerjaannya.

Intinya, berbagai upaya sudah dilakukan untuk memusnahkan surau tua itu. Namun, qoddarallah biidznillah, tak ada yang berhasil.

Hingga suatu hari, pejabat desa setempat, entah datang dari mana idenya, minta tolong ke pesantren Salafiyah yang masih satu Kabupaten. Kalau berhasil merobohkan surau itu, semua bahan bangunannya yang masih layak pakai boleh diambil oleh pihak pesantren Salafiyah  Kebetulan, bahan bangunannya cukup berkualitas. Tiang-tiang, pintu, dan jendela terbuat dari kayu jati yang masih sangat bagus kondisinya, hanya saja kurang terawat. Genteng-gentengnya juga masih cukup layak.

Ustadz pun menyetujui. Beliau mengutus 15 santri terbaiknya agar berangkat dan membongkar surau tua itu. Sebelum berangkat, Ustadz memberi taushiyyah yang intinya agar jangan takut kecuali hanya kepada Allah. Ustadz juga menunjuk 3 santri dengan qiroah terbaik agar membaca Al-Qur'an di beberapa sudut surau selama pekerjaan pembongkaran berlangsung. Ini dimaksudkan sebagai ruqyah untuk mengusir jin dan syaithon yang menempati surau itu; agar Allah menyelamatkan para santri dari gangguan syaithon dan jin yang jahat.

Maka berangkatlah ke-15 santri tersebut. Sesampainya di lokasi surau, mereka membaca doa dan dzikir keselamatan serta meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah, agar dimudahkan segala urusan. Mulailah mereka bekerja dengan penuh semangat.

3 santri membaca Al-Qur'an, sementara 12 lainnya sibuk melakukan pembongkaran. Tak ada rasa takut, gentar, atau ngeri sedikitpun dalam benak para santri muwahhidun tersebut. Mereka meyakini, syaithon, jin, atau hantu, semuanya adalah makhluq Allah. Mereka tak akan sanggup menimpakan madharat secuilpun tanpa izin dari Allah.

Alhamdulillah......segala puji bagi Allah semata. Tidak lebih dari 3 jam saja semua pekerjaan sudah beres. Dan tidak ada kejadian apa-apa. Tidak ada peristiwa aneh sama sekali. Semua baik-baik saja biidznillah. Masyarakat setempat yang menyaksikan dari jauh terkagum-kagum pada para santri tersebut. Mereka heran, kok bisa ya? Padahal selama ini mereka selalu gagal. Bahkan para santri shufi itu pun gagal total. Ada apa ini? Mereka penasaran.

Alhamdulillah......peristiwa pembongkaran surau tua yang berjalan aman dan lancar tersebut malah menjadi sebab terbukanya hati banyak warga setempat untuk ikut mengaji, mendalami ilmu agama dengan manhaj Salaf. Awalnya mereka penasaran. Terus bertanya-tanya. Akhirnya mereka-biidznillah-tertarik dengan kajian-kajian Salafy Ahlussunnah yang memang sarat dengan pemurnian aqidah yang murni, sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Semoga kisah nyata sederhana ini bisa menjadi 'ibrah yang baik untuk kita semua. Amiin......

Sumber: FB Ammi Ahmad Alawi Aac

Kisah Islam - Tidak Takut dengan Dengan Jin, Hantu dan Sebangsanya

More aboutKisah Islam - Mereka Tidak Takut dengan Jin, Hantu dan Sebangsanya

Kisah Antara Pengrajin Batu Bata dan Tukang Parkir

Bertahun-tahun bergelut dengan dunia batu bata, tak menjadikan Poniman ini merubah profesi hariannya. Dia begitu setia dengan apa yang saat ini dia kerjakan. Poniman sudah mengenal dunia kerajinan batu bata di usia SD, karena inilah profesi turun temurun dari bapaknya dulu.

Jangan mengira Poniman ini pemilik atau juragan batu bata, dia hanya orang miskin yang ngenger buruh alias karyawan dari bos juragan tanah di kampungnya. Tidak ada profesi lain yang bisa dia lakukan kecuali kerja di batu bata ini. Bekerja disawah tidak mungkin karena sekarang area sawah sudah menjadi perumahan, petani gulung tikar sudah malas bertani karena tidak sumbut dengan hasil panennya. Pupuk yang harganya selangit plus biaya perawatan besar menjadikan petani enggan untuk memberi makan penduduk Indonesia. Jadi, sebagian penduduk dari desa ini memilih untuk mendukung dunia properti dengan menjadi kuli batu bata.

Berangkat pagi buta sekitar pukul 05:30 setelah bersih bersih kandang ayam Poniman menuju ke area sawah yang kini menjadi tempat pembuatan batu bata. Tidak lupa membawa bekal makanan dan kopi dari rumah serta seragam baju gombal sebagai serepan ganti untuk mengaduk-aduk lumpur.

Sesudah sampai di tempat , Poniman mempersiapkan peralatannya berupa cangkul, cikrak*, ember dan tetek bengek lainnya. Dengan cangkulnya yang berat dan besar Poniman bertubi-tubi memukulkan ke tanah, menggalinya dengan teratur dan saat ini sudah sampai kedalaman 3 meter mirip kolam renang pagora Kediri. Sudah kebal punggungnya yang hitam legam diterpa terik matahari dengan otot-otot yang menonjol sebagai hiasannya.

Tidak sampai disitu saja, sesudah selesai mencongkel bongkahan tanah dengan cangkulnya Poniman menimba air di sumur dan menyiramnya kalau seandainya air itu di takar sepertinya lebih 2 kolah bak air untuk membuat adonan tanah itu. Sesudah menngguyur air pada adonan itu Poniman melanjutkan dengan menginjak-injak tanah tersebut sehingga seperti bubur lumpur. Dia adon terus sampai rata dan memberi sedikit campuran abu bekas bakaran bata agar adonan lumpur tersebur kesat mempermudah untuk dicetak.
Memerlukan tenaga yang luar biasa, Poniman masih mengangkat lumpur itu dari dalam kolam ke atas pelataran bolak-balik hingga ratusan kali. Jangan Anda tanyakan berapa lama waktu yang dia butuhkan melakukannya...

Sesudah adonan diangkat di pelataran, Poniman mulai mempersiapkan air dan ember beserta cetakan batu bata. Dan mulailah dia dari kiri ke kanan. Satu mud telapak tangan lumpur di angkat dan ditaruh dipercetakan, terus seperti itu hingga mencapai ribuan batu batu.
Panas, berpayung langit bertengger surya di atas kepalanya, punggungnya yang mengkilau dengan baluran keringat-keringat sebiji jagung tak membuatnya dia meninggalkan posisi duduknya yang mencetak satu persatu batu bata.

Ketika adonan habis dia tinggalkan batu bata itu agar mengering, dia pulang sejenak ke rumah untuk mencari pakan ternak kambingnya yang mulai teriak-teriak kelaparan.

Menghepaskan tubuhnya yang kekar jam 13:00 Poniman tidur sejenak untuk mengumpulkan tenaga untuk nanti pukul 15:00. Karena pekerjaan bata nya belum rampung, dia harus mengangkat batu bata yang agak kering dipelataran dan di tata rapi agar besok bisa mencetak batu bata lagi. Belum lagi kalau musim hujan, dia harus rela pontang-panting untuk menutupi batu batanya agar tidak hancu...

Begitulah sehari-hari dia. Oh ya, dia mendapatkan upah per seribu batu bata sekitar 25 ribu kalau dikalkulasikan sebulan 25 X 30 = 750.000/bulan, itupun kalau lagi musim terang, kalapun musim hujan kadang poniman tidak membuat batu bata hingga berminggu-minggu... Cukup ataupun tidak bagi Poniman untuk menghidupi keluarganya itu urusan lain.

Beda Poniman, beda pula Ponidi yang kini jadi tukang parkir dadakan di pasar sebelah. Nasibnya yang mujur dengan gaya hidup lebih terjamin daripada Poniman Ponidi memilih menjadi tukang parkir, karena dia pikir tanpa modal besar dengan tenaga besar dia mampu menghasilkan uang banyak bahkan berlipat-lipat daripada jadi pembuat batu bata. Atau pak Pardi yang jadi petani terong? Ooh kalah jauh, masih besaran penghasilan Ponidi dong. Ponidi dulu juga buruh tani, karena tidak mencukupi untuk beli rokok dan biaya sekolah anak, dia banting setir juga membuat batu bata. Hanya bertahan beberapa bulan Ponidi merasa pekerjaannya tidak cocok untuk masa sekarang. Akhirnya Ponidi pergi kepasar untuk mencari inspirasi, bagaimanakah bisa menghasilakn uang tanpa susah payah. Ahaaaaaaa.. dia melihat motor banyak di pertokoan itu, dan akhirnya dia terjun jadi tukang parkir. Hanya bermodal sempritan mainan anaknya dan Cuma duduk  udah dapat duit.

Setiap 1 sepeda motor Ponidi menarik 1.000 rupiah dan di pertokoan itu kurang lebih 100 sepeda motor yang parkir. Bisa dibayangkan berapa penghasilan si Ponidi?? Anda bisa ngitung sendiri...

Banyak cerita konyol si Ponidi tukang parkir ini, di antaranya ada salah satu toko yang tidak setuju adanya penarikan parkir (pinginnya parkir gratis). Salah satu ruko yang ramai itu salah satunya sebagai tempat usaha rental print dan photo copy. Nah, ketika itu ada orang hanya nge-print 1 lembar kertas kira-kira hanya 300 perak ngerutu marah-marah, bayangkan saja nge-print sama parkirnya lebih mahal parkirnya. Jadi dia harus ngeluarkan duit 1.300 hanya untuk print 1 lembar kertas (suatu hal yang tidak masuk  akal)

Ada lagi ketika salah satu ruko counter penjualan pulsa yang di deretan sebelahnya, waktu itu ada pelanggan yang marah-marah karena mau membeli perdana dan ternyata perdana di konter tersebut habis. Nah, karena g dapat perdana si pelanggan pulang, eh dimintai parkir...tidak dapat barangnnya tapi harus mengeluarkan duit hanya untuk parkir.. naruh motor 1 Menit bayar 1.000... Mengenaskan. Peduli amat, yang penting Ponidi dapat duit..

Dan lebih seru lagi, ketika ada helm pelanggan yang hilang si Ponidi cuek saja tidak mau menggantinya. Sang pelanggan kembali sumpah serapah “emang kerjanya apa, hanya prrrrrrrrrriiiit, kiri kanan, minta duit doank, mana tanggung jawabnya, karcis satu buat 10 kendaraan bla bla bla bla!!
Segudang cerita tentang Ponidi si tukang parkir, tapi Ponidi cuek karena inilah pekerjaannya dia ingin hidup lebih baik dari Poniman atau petani yang lain.

Tapi denger-denger sepertinya Poniman berencana ingin mengikuti jejak si Ponidi...

Yogyakarta, 08 Juli 2012
-------------------------

Iklan
More aboutKisah Antara Pengrajin Batu Bata dan Tukang Parkir